Tampilkan postingan dengan label alternatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alternatif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Obat Kanker dari Kulit Kodok

Tampaknya jalan terbuka menuju pengobatan kanker yang murah semakin dekat. Para ilmuwan dipimpin Prof. Chris Shaw dari Queen’s School of Pharmacy, Inggris berhasil identifikasi dua protein kodok untuk obat kanker.

Dua protein kodok waxy monkey ini dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah dan membunuh tumor kanker. Tim peneliti juga menemukan bahwa kodok fire-bellied memproduksi protein yang dapat menstimulasi pertumbuhan pembuluh darah. Jenis protein yang satu ini malah bisa membantu pasien sembuh dari cedera dalam waktu lebih cepat.

"Hasil penelitian ini berpotensi mengobati penyakit yang membutuhkan pembuluh darah, memperbaiki diri dengan cepat seperti penyembuhan luka, transplantasi organ, luka pasien diabetes, dan kerusakan yang disebabkan penyakit jantung serta stroke," kata Profesor Shaw.

Selama ini, ilmuwan dan perusahaan obat di seluruh dunia sudah menginvestasikan uang sekitar triliunan dolar AS untuk mengembangkan obat yang secara efektif mengontrol dan mengatur pertumbuhan pembuluh darah.

Namun, diungkapkan Prof. Shaw, usaha penemuan obat itu belum menemukan titik cerah. "Tujuan penelitian kami adalah membuka potensi alam, dalam hal ini sekresi yang dikeluarkan kulit kodok bisa mengatasi penderitaan manusia. Kami sangat yakin, potensi alam bisa jadi solusi untuk banyak masalah kita di dunia. Kita hanya perlu mengajukan pertanyaan yang tepat agar menemukannya," ujarnya.

"Sangat memalukan bahwa kita punya banyak potensi tersimpan di alam semesta yang berpotensi menjadi obat hebat untuk mengatasi kanker. Sementara kita tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkannya," katanya.

Penelitian itu mendapat pujian dalam penghargaan Medical Futures Innovation Awards di London, awal bulan lalu. Prof. Brian Walker dan Dr. Tianbao Chen, panel juri penghargaan tersebut, mendorong para peneliti yang dipuji tersebut untuk melanjutkan karya mereka menuju tahap selanjutnya.

"Banyak penemuan hebat dikuak lewat ketidaksengajaan dan ide Prof. Shaw sangat inovatif dan menarik untuk memenuhi kebutuhan kita. Penting juga untuk menyadari bahwa inovasi itu masih berada di tahap awal. Masih dibutuhkan banyak usaha keras untuk mewujudkan penelitian ini menuju terapi klinis," kata panel juri. (diy)





Sumber :Sehatnews
Asep Candra
http://health.kompas.com/read/2011/07/15/10383946/Obat.Kanker.dari.Kulit.Kodok

Jeruk Purut untuk Kekebalan Tubuh Pasien Kanker

Buah dan daun jeruk purut (Citrus hystrix DC) selama ini dikenal sebagai buah bahan untuk bumbu penyedap masakan. Tanaman ini juga populer di kalangan pengguna herbal  karena manfaatnya untuk meringankan sakit influenza, batuk atau pun untuk shampoo.

Melalui hasil penelitian, manfaat tumbuhan perdu ini ternyata lebih hebat lagi, yaitu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Berdasarkan penelitian awal mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), kulit jeruk purut dapat menjadi zat antioksidan yang membantu menstabilkan kekebalan tubuh bagi penderita kanker. Kulit buah ini bahkan berptensi menjadi  pengganti doxorubicin atau obat penjaga sistem imun bagi penderita kanker pascaoperasi atau kemoterapi kanker.

Herwandani Putri dan dua temannya, mahasiswa yang melakukan penelitian tersebut, menyatakan kulit jeruk purut mengandung senyawa naringenin dan hespiridin, yang berfungsi sebagai antioksidan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan pendamping kemoterapi kanker.

Lebih lanjut Putri mengatakan, cara membuat obat dari kulit jeruk purut cukup sederhana. Jeruk dikupas, ambil kulitnya dan dicuci seperlunya, lalu dipanaskan dalam oven hingga kering. Kulit jeruk kering ditumbuk hingga menjadi bubuk halus. Bubuk halus ini ditaruh dalam cawan atau tempat lain, dan dicampur atau ekstraksi dengan etanol sebagai pelarut.

Menurutnya, 500 gram serbuk jeruk yang diekstraksi dengan etanol bisa menghasilkan 100 gram. Dalam penelitiannya, Putri menggunakan ekstrak jeruk purut tersebut ke tikus yang tengah kemoterapi.
"Dengan perlakuan itu setelah kami teliti, sel darah putih tikus bertambah cukup signifikan," kata Putri, Jumat (22/7/2011).

Selain itu, menurutnya penggunaan herbal dari jeruk purut, bagi penderita kanker yang menjalani kemoterapi bisa mencegah efek obat kimia yang diakibatkan pemakaian doxorubicin, seperti rambut tidak rontok.

Penelitian Herwandani Putri tersebut telah diikutkan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Makassar, Kamis (21/7/2011). Putri menjanjikan akan meneliti lebih dalam lagi penerapan kulit jeruk purut sebagai obat alternatif dan dikembangkan dalam kemasan

Jika merujuk ketentuan internasional, uji laboratorium dan percobaan obat setidaknya memerlukan waktu 20 tahun. Tapi, dia merasa yakin temuanya bisa lebih cepat diaplikasikan jika banyak pihak membantu dalam pengembangannya.

"Saya berharap tidak sampai menunggu 20 tahun ekstrak jeruk purut bisa jadi obat kemoterapi kanker yang diakui dunia kedokteran," tegasnya.



K3-11 | Asep Candra
http://health.kompas.com/read/2011/07/22/16362366/Jeruk.Purut.untuk.Kekebalan.Tubuh.Pasien.Kanker.

"Terapi Listrik" Rel KA Bahayakan Jantung

< inzet / ketr. gbr :KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Warga sekitar membaringkan tubuh mereka saat melakukan terapi listrik di rel kereta api dekat Stasiun Rawa Buaya, Jakarta Barat, Senin (18/7/2011).
Walaupun membahayakan keselamatan, warga tetap berani berbaring dan menghabiskan waktu antara 1 hingga 2 jam untuk melakukan terapi yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti tumor, stroke, asam urat, hingga diabetes


Tingginya biaya kesehatan membuat sebagian besar warga Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, memanfaatkan rel kereta api sebagai pengobatan alternatif untuk mengobati berbagai macam jenis penyakit.

Ironis memang, tetapi itulah kenyataan yang saat ini terjadi. Warga yang tidak mampu dan sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan harus melakukan pengobatan yang justru sangat membahayakan keselamatan nyawa mereka.

Arif (30), warga sekitar Rawa Buaya yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojek, mengaku sudah satu setengah tahun menjalani "terapi listrik" rel kereta api. Sama seperti warga lainnya, Arif mulai melakukan pengobatan "terapi listrik" pada 2009 silam karena melihat ada sekerumunan orang berkumpul di rel kereta.

"Saya kirain dulu ada orang yang tabrakan, soalnya banyak orang ngumpul di rel kereta api. Tapi ternyata lagi terapi," kata bapak satu anak ini, Senin (25/7/2011).

Arif mengaku merasa agak takut saat pertama kali ingin mencoba melakukan "terapi listrik" rel kereta api. Akan tetapi, rasa takut itu terkalahkan dengan rasa penasarannya yang lebih besar sehingga dia memberanikan diri mencoba pengobatan alternatif yang terbilang cukup berisiko tersebut.

Setelah mencoba "terapi listrik" rel kereta api, Arif merasa badannya lebih terasa segar dan aliran darah menjadi lancar. Bahkan sakit pinggang dan gangguan sesak di dadanya berangsur-angsur pulih.
"Alhamdulillah sejak terapi di situ jadi mendingan. Sekarang sakit pinggang saya sudah mendingan," ucapnya.

Menurut Arif, "terapi listrik" rel kereta api tidak hanya dilakukan oleh orang tua dan dewasa saja, bahkan anak remaja pun banyak yang mencobanya, tetapi anak kecil tidak diperbolehkan.

Berbeda halnya dengan pengobatan ke puskesmas dan rumah sakit yang harus menyiapkan sejumlah uang, dengan terapi listrik ini, yang diperlukan hanyalah sebuah kain lap basah dan air minum. Lap basah tersebut akan digunakan untuk menggosok rel kereta api supaya tegangan listrik yang dihasilkan menjadi lebih besar.

"Kalau kereta lewat, aliran listrik (strum) akan lebih besar, tetapi kalau keretanya enggak lewat, strumnya kecil," katanya.

Setiap minggu, Arif pergi ke rel kereta api untuk melakukan terapi selama kurang lebih satu jam. Sekitar pukul 16.30, warga sudah berkerumun di sekitar stasiun rel kereta api Rawa Buaya untuk melakukan terapi ini. Bahkan, menurut Arif, banyak warga dari tempat lain yang datang jauh-jauh hanya untuk sekadar melakukan "terapi listrik".

"Rasanya kaya kejet-kejet gitu aja. Pas dipengang badan bergetar semua. Mulai dari kaki, badan, kepala semua bergetar," ujarnya.

Selama melakukan terapi sejak tahun 2009 sampai sekarang, Arif mengungkapkan belum pernah ada korban yang meninggal akibat melakukan terapi ini, baik itu yang tertabrak kereta api maupun yang terkena tegangan tinggi. Semenjak ramai diberitakan sejumlah media televisi akhir-akhir ini, larangan dan sanksi pun mulai diberlakukan pihak PT Kereta Api Indonesia setempat kepada warga yang masih mencoba melakukan terapi listrik di rel kereta api.

Situasi ini membuat Arif dan beberapa warga sekitar Rawa Buaya, Cengkareng, cukup kecewa. "Dengar-dengar dendanya Rp 15 juta. Padahal buat berobat sendiri sekarang biayanya mahal. Alternatif nyaman ya di kereta api, murah. Cuma modal bawa badan dan air doang," ujarnya.

Manfaat terapi listrik juga dirasakan Heni (47) yang tinggal tidak jauh dari stasiun kereta Rawa Buaya. Ibu tiga anak ini mengaku sudah merasakan manfaat dari terapi membahayakan ini. Betapa tidak, Heni yang dulunya sering merasa nyeri, kesemutan, dan susah bangun lantaran ada masalah di kaki, saat ini penyakitnya sudah mulai membaik. "Alhamdulillah baik. Semutan hilang, nyeri yang dilutut juga sembuh," katanya.

Menurut Heni, terapi listrik di rel kereta api sudah dilakukannya sejak 2009 sampai sekarang. Hampir seminggu dua kali dia pergi ke rel kereta untuk menjalani pengobatan yang dipercaya oleh orang sekitar bisa menyembuhkan berbagai macam jenis penyakit.

Uniknya adalah terapi ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh mereka yang dari sisi finansial tidak mampu, tapi juga dilakukan oleh orang-orang yang dari sisi finansial dan pendidikan jauh lebih baik.
"Saya mulai terapi ini pas masih sepi, belum banyak orang yang tahu. Sekarang sudah ramai. Bahkan ada yang ke sana bawa motor, mobil. Orang kaya juga banyak yang kumpul," katanya.

Setelah melakukan terapi (tidur di atas rel), biasanya Heni dan warga lainnya sudah menyiapkan air minum. Air minum tersebut sengaja dibawa untuk mereka minum setelah melakukan terapi. Karena ada anggapan, banyak minum air sehabis melakukan terapi dapat membantu aliran darah menjadi lebih lancar.

Heni mengaku sebelumnya sudah pernah melakukan pengobatan ke puskesmas, tetapi kondisi kesehatannya tak kunjung ada perubahan. Setelah dia mencoba terapi di rel kereta, sakit di kakinya justru berangsur-angsur membaik dan sembuh.

"Pokoknya benar deh, saya bukan ngomong bohong ya. Ini kaki saya enggak sakit lagi, semutan hilang. Tapi, sekarang kalau kambuh lagi sudah enggak berani lagi ke sana karena sudah dilarang. Daripada ngeluarin duit sampai Rp 15 juta mendingan berobat ke rumah sakit yang mahal," tandasnya.

Berisiko ganggu jantung
Menanggapi fenomena banyaknya warga yang melakukan terapi ini, Prof Dr Yahya Kisyanto, PhD, Ketua Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternatif Indonesia mengaku prihatin.  Ia mengimbau masyarakat untuk menghentikannya karena pengobatan ini tak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

"Kita mesti tahu dulu siapa orang yang memulai ini, dasarnya apa, maksudnya apa, patofisiologinya bagaimana, dan apa referensinya. Kita enggak bisa menerima begitu saja," ujarnya.

Menurut Kisyanto, tindakan coba-coba yang dilakukan warga sekitar stasiun kereta Rawa Buaya akan berisiko terutama bagi mereka yang mengidap penyakit jantung. Pasalnya, terapi listrik yang saat ini digunakan sebagai pengobatan nantinya bisa mengganggu ritme jantung.

"Jadi enggak bisa sembarangan main listrik. Memang ada di ICU kita gunakan namanya kejut jantung, tetapi itu karena kita sudah tahu apa sebabnya, kemudian apa yang mau kita kerjakan. Jadi jangan sembarangan," katanya.

Dia menjelaskan, pada dasarnya pengobatan komplementer hanya sebagai penambah dari pengobatan konvensional, tetapi bukan berarti pengobatan komplementer berbeda sama sekali dengan konvensional.

Terkait kasus ini, Kisyanto kembali menegaskan, yang terpenting adalah harus ditelusuri dahulu siapa orang yang pertama kali menganjurkan pengobatan seperti ini, latar belakangnya apa, dan apa teori yang dipakai.

"Jadi dari kita selalu itu. Telusuri dulu siapa yang pencetusnya, lalu apa maksudnya, kerjanya bagaimana, referensinya dari mana," tandasnya.



Bramirus Mikail | Asep Candra
http://health.kompas.com/read/2011/07/26/09205656/.Terapi.Listrik.Rel.KA.Bahayakan.Jantung

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money