Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2011

Jika Ingin Buang Sial, Berlatihlah Jadi Mayat

Semua peserta ritual akan merasakan menjadi mayat dengan berbaring dalam peti mati.


Ritual buang sial banyak dikenal di Indonesia. Diantaranya adalah memotong rambut atau berenang di laut. Di Thailand, upacara buang sial cukup unik. Berlangsung di kuil, orang yang membuat sial itu harus berlatih menjadi 'mayat'. Dan kuil yang menawarkan jasa buang sial ini.

Kuil Pram Manee  di Provinsi Nakorn Nayok, sebelah timur Bangkok menawarkan solusi buang sial dua kali sehari, tepat pada pukul 09:09 pagi dan 13:09. Waktu upacara yang mengandung angka sembilan, karena ada kepercayaan di Thailand bahwa angka ini membawa keberuntungan.
Untuk melakukan upacara buang sial, semua peserta diwajibkan membayar 180 baht sekitar Rp51.300 untuk biaya bunga, kain putih, dan 'jasa'--berupa kebutuhan harian termasuk pasta gigi, sikat gigi dan makanan bagi para biksu.
Selama ritual, para peserta berdiri di depan peti mati sambil memegang bunga dan berdoa agar nasib sial pergi serta meminta keberuntungan dalam kehidupan. Selanjutnya mereka akan tidur di peti mati sementara para biarawan melantunkan doa.

"Kami berdoa untuk si 'mati' agar membersihkan hal-hal buruk. Semua hal buruk akan hilang saat seorang bhikkhu menarik selembar kain dari atas peti mati," kata Rin Manaboom, seorang biarawan di kuil.

"Biarawan akan meletakkan kain di atas peti mati dan menariknya kembali seperti menarik hal-hal baik masuk ke dalam diri dan membuang hal-hal buruk," katanya seperti dikutip dari Yahoo.
Setelah itu, mereka diminta bangun dan diberi air suci oleh seorang biksu.

Krisda Netmanee, seorang polisi 39 tahun, mengatakan ingin memulai sebuah awal baru setelah serangkaian tugas kerja yang buruk sejak awal tahun ini. "Saya mengalami nasib buruk tahun ini. Saya di sini untuk membuang nasib buruk dan meminta berkat agar hal bak datang," tambahnya.

Sedangkan, pengunjung lainnya, Ra Damthanin mengatakan mengikuti ritual secara rutin. Ra mengaku menjadi 'mayat' setidaknya enam kali agar berumur panjang.
"Saya ingin hidup dalam waktu lama bersama anak-anak, tetangga, dan adik saya," ucap kakek 62 tahun tersebut. "Saya hanya ingin berumur panjang."


Baca juga:
Bangun Setelah 21 Jam di Peti Es Kamar Mayat
Ajaib, Wanita Ini Mengandung Seekor Ular


Anda Nurlaila
• VIVAnews
http://kosmo.vivanews.com/news/read/238191-buang-sial-di-ritual-jadi-mayat--di-thailand

Rabu, 20 Juli 2011

Mengenal Diri dengan "Traveling"

Traveling punya banyak dampak positif, bukan sekadar kegiatan menghibur diri. Merancang perjalanan sendirian, bersama pasangan, atau dengan teman, perlu menjadi kegiatan rutin. Pasalnya, dengan melakukan perjalanan, Anda bisa mengenali kebiasaan teman, pasangan atau orang lain untuk menerima perbedaan sekaligus memahami kepribadian orang lain yang unik. Traveling juga bisa menjadi cara menggali passion terhadap sesuatu, karena perjalanan memberikan banyak inspirasi dan menjadi cara mengasah kemampuan diri bersosialisasi.

Karenanya, traveling layak menjadi agenda rutin, setidaknya satu tahun sekali. Anda bisa membagi waktu untuk traveling sendirian, berdua saja dengan pasangan, atau bersama teman dan komunitas. Tentu saja, manfaat utama melakukan perjalanan adalah menghibur dan menyegarkan diri untuk mengusir penat akibat kesibukan sehari-hari.

Traveling juga bahkan menunjang profesi. Ini diakui oleh penggemar traveling dari berbagai latar belakang profesi seperti Erwin Parengkuan, Mira Lesmana dan Rene Suhardono.

Produser film, Mira Lesmana, mengakui harus melakukan perjalanan setiap dua bulan sekali. Selain ingin menghibur diri, traveling penting bagi Mira untuk mendukung profesinya. "Kalau dua bulan nggak traveling saya justru stres. Bahkan perjalanan singkat ke tempat baru perlu dilakukan. Kalau saya, traveling bukan hanya ke tempat wisata. Saya punya misi kalau syuting film harus keluar dari comfort zone. Jadi, traveling bisa menjadi cara hunting lokasi dengan masuk ke pelosok desa," jelasnya kepada Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Traveling bagi Mira merupakan cara membuka diri dan berinteraksi dengan kultur berbeda. Pilihan destinasi perjalanan bagi Mira tak melulu pemandangan alam, namun juga wisata budaya. Terakhir, Mira mengunjungi Pulau Komodo, di sinilah ia mendapatkan keduanya, alam dan budaya. "Flores keren, saya ingin berkali-kali datang ke sana, selain Lombok," tutur Mira yang memendam keinginan traveling ke Papua.

Sementara bagi Erwin, traveling adalah sumber inspirasi, membuka mata dengan berbagai budaya berbeda, lokal maupun di negara lain. Selain juga meningkatkan kemampuan komunikasi saat bertemu dengan orang lain selama perjalanan. Bahkan, kata Erwin, perjalanan bisa membantu seseorang mengenal teman atau pasangan lebih dekat.

"Traveling dengan teman membuat kita jadi tahu gaya hidup, kebiasaan, serta kegemarannya. Saat melakukan perjalanan ke suatu negara misalnya, setiap orang punya pilihan dan kegemaran berbeda, dalam mengunjungi suatu tempat misalnya. Di situlah kita bisa belajar berkompromi, sekaligus bisa mengetahui apakah teman atau pasangan menyenangkan atau tidak untuk melakukan perjalanan bersama. Bisa jadi, sebagai teman bisnis atau hal lain, mereka menyenangkan, namun tidak saat traveling. Perjalanan membuat kita belajar memahami satu sama lain, karena kita selalu bersama dalam waktu lama," jelas Erwin yang menjadwalkan traveling setahun sekali bersama keluarga. Kebiasaan melakukan perjalanan ini yang membuatnya bertualang di lima benua. Terakhir, Erwin menjelajah tujuh kota di India. "Mending nggak punya uang daripada nggak bisa menjelajah dunia," tambahnya.

Bagi CareerCoach, Rene Suhardono, traveling, menjelajah dunia, menjadi cara mencari passion termasuk dalam karierKarier, lanjutnya, seharusnya membuat seseorang bahagia. Untuk menjadi bahagia, setiap orang harus punya passion dan tujuan. Nah, traveling bisa menjadi usaha pencarian passion ini.

"Kalau perjalanan hanya dilakukan dari rumah ke kantor, balik lagi dari kantor ke rumah. Atau dari kantor ke mal. Perjalanan harian ini tidak aspiratif. Kalau tidak aspiratif, tidak akan mendapatkan passion. Karenanya upayakan mencari passion dengan melakukan perjalanan menjelajah Indonesia dan dunia," jelas Rene yang menjadwalkan traveling 2-3 kali setiap bulan, tiga kali setahun berduaan dengan istri, dan satu tahun sekali dengan anak-anak.



Wardah Fazriyati | wawa
http://female.kompas.com/read/2011/05/06/11364350/Mengenal.Diri.dengan.Traveling.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money