Ditemukannya ikan interseksual atau berubahnya ikan jantan menjadi
betina disebabkan banyaknya bahan pencemar di Kali Surabaya. Terdiri
dari estrogen sintetis dan bahan kimia.
Prigi Arisansi Direktur Eksekutif Ecoton menjelaskan estrogen sintetis
berasal dari urin manusia yang menggunakan pil kontrasepsi. Selain itu
juga akibat penggunaan hormon dalam pakan ternak untuk penggemukan dan
pembiakan ikan, ayam, sapi dan lainnya.
Bahan kimia yang diduga kuat menyebabkan ikan interseksual adalah
nonylphenol ethoxylates
(NPE) yang merupakan turunan minyak bumi dan banyak digunakan dalam
pembuatan deterjen, kertas dan bahan pemadam api. Biasanya bahan-bahan
itu merupakan limbah rumah tangga, hotel dan rumah sakit.
Pestisida berupa
chytrid (anti jamur) dan
atrazine (anti
gulma) yang berasal dari limpasan air hujan dari lahan pertanian.
Senyawa logam berat yaitu limbah dari industri logam dan elektronik
serta
platicizer limbah industri plastik.
Sedangkan beberapa obat kimia penyebab ikan interseksual adalah pil kontrasepsi mengandung hormone estrogen sintetis 17α-
ethinylestradiol, obat anti kejang
carbamazepine, dan obat penenang
fluoxetine.
"Jika terkena bahan-bahan itu, ikan interseksual akan mengalami gangguan
reproduksi, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan kepunahan
jenis-jenis ikan di sungai," kata Prigi seperti yang terungkap dalam
rilis pada
suarasurabaya.net, Minggu (30/10/2011).
Penelitian Ecoton Juli hingga Agustus 2011 menunjukkan bahwa 84 persen
dari total jumlah ikan yang ditangkap di sepanjang Kali Surabaya dari
Mlirip hingga pintu air Gunung Sari, memiliki alat kelamin betina. Tujuh
jenis ikan terbanyak yang berhasil ditangkap di Kali Surabaya selama
Juli-Agustus 2011 adalah Ikan Sapu-sapu sejumlah 245 ekor, Ikan Bader
Putih dengan 149 ekor, 119 ekor Ikan Bader Merah, 88 ekor Ikan Jendil
atau Wakal, Ikan Rengkik dengan 47 ekor, Ikan Keting 35 ekor dan Ikan
Nila 22 ekor.
Kali Surabaya selama hampir 30 tahun terakhir menjadi saluran pembuangan
limbah kimia industri, tempat sampah besar dan WC Umum yang bebas
dibuangi kotoran manusia, air kencing dan sampah.
Dalam inventarisasi sarana sanitasi tercatat 243 WC helikopter yang ada
di bibir sungai, model WC helicopter ini memungkinkan orang bisa buang
hajat langsung ke Kali Surabaya, 7000 bangunan pemukiman di bibir sungai
juga memberikan kontribusi limbah domestik dan industri sebesar 75 ton
limbah cair industri dan 5 ton tinja yang bebas digelontorkan ke Kali
Surabaya. Belum lagi buangan tinja ternak sapi yang banyak ditemukan di
bantaran Kali Surabaya.
Ecoton merinci komposisi sampah padat yang mengapung di Kali Surabaya
didominasi oleh sampah tanaman seperti ranting pohon, dedaunan dan
sampah sayuran dengan 44 persen. Diikuti kemudian 27 persen sampah
plastik seperti bungkus mie, minuman, sampo, deterjen dan lain-lain.
Kemudian 15 persen popok bayi dan pembalut sekali pakai, 7 persen tinja
manusia, 4 persen bangkai hewan dan jeroan serta 3 persen lain-lain
diantaranya bola lampu, kain, styrofoam.
Dengan temuan-temuan termasuk limba yang terkandung di dalam Kali
Surabaya, Prigi meminta Pemerintah mengkaji ulang pemanfaatan Kali
Surabaya yang selama ini menjadi bahan baku air minum PDAM Surabaya.
Padahal air itu dikonsumsi oleh seluruh masyarakat Surabaya dan
sekitarnya.(git)
Laporan Agita Sukma Listyanti
http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=1c99c4103ce5e08c22f7a417cae1d028201199405
***
Artikel Terkait :
Ecoton Temukan Banyak Ikan Ganti Kelamin di Kali Surabaya
Penemuan mengejutkan datang dari Ecoton (
Ecological Observation and Wetlands Conservation)
atau Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah. Bahwa telah
terjadi perubahan kelamin ikan dari jantan menjadi betina di Kali
Surabaya.
Hasil temuan Ecoton menyebutkan bahwa dominasi ikan betina di Kali
Surabaya mencapai 84 persen. Ini diduga karena ikan jantan mengalami
feminisasi yang dipicu oleh tingginya tingkat pencemaran di Kali
Surabaya.
Prigi Arisandi Direktur Eksekutif Ecoton menjelaskan feminisasi ikan
adalah perubahan fisiologis pada ikan jantan sehingga memiliki 2 organ
kelamin yaitu kelamin jantan dan betina (ikan interseksual) serta dapat
menghasilkan sel telur.
"Ini karena dalam perkembangannya ikan jantan terpapar oleh limbah urin
perempuan yang mengkonsumsi pil kontrasepsi dan bahan-bahan kimia,
antara lain pestisida, PCB, logam berat, deterjen, plastilizer (bahan
pembuat plastik) dan shampo serta obat-obatan kimia yang berperilaku
menyerupai estrogen, hormon betina," papar Prigi dalam rilis yang
diterima
suarasurabaya.net, Minggu (30/10/2011).
Kromoson ikan berkelamin jantan terususun atas kromosom X Y, sedangkan
pada Kelamin betina kromosomnya adalah X X. Kromoson Y umumnya gampang
rusak dan tidak kuat sehingga sensitif atau rentan terhadap bahan-bahan
pencemar di alam.
Perubahan kelamin ini ternyata juga banyak terjadi di negara industri
seperti Amerika dan Inggris. Sayangnya, kata Prigi, di Kali Surabaya
penanganannya kurang serius.
Lebih lanjut, Prigi mengatakan 84% ikan salmon di Hanford Reach
Washington, Amerika Serikat, memiliki organ kelamin betina padahal
secara genetis merupakan ikan jantan.
Ahli biologi United States Geological Survey (USGS) meneliti ikan bass
dan menemukan fakta 73% ikan bass di Sungai Mississippi adalah ikan
interseksual, yaitu ikan jantan yang mengalami feminisasi sehingga
memiliki organ reproduksi betina.
Menurut peneliti USGS, jumlah ikan interseksual paling banyak ditemukan
di sekitar lahan pertanian intensif dan permukiman padat penduduk.(git)
Laporan Agita Sukma Listyanti
http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=82851243aef82eaa8d358a9959f70046201199404