Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2011

Cinta Akhirnya Harus Memilih

Perjalanan saat senja. Adalah ketika aku melepaskan cangkang kepompongku, usai metamorphosis panjang itu. Kepakan sayapku menuruni lembah menciumi kuncup-kuncup yang bermekaran, sekedar mencari nektar yang tersisa. Lihatlah sayapku menjaring bias sinar mentari, agar helainya semakin kokoh. 

Jangan kau halau agar menjauhi kuncupmu. Sayap-sayapku mulai lelah kini. Ijinkan aku bertengger di dahanmu, sekedar menatap indahnya kelopakmu. 

*****

Aku selalu menyukai perjalanan, seperti aku menyukai senja. Perjalanan dan senja, adalah sepenggalan kisah itu. Kisah yang belum usai. Ku biarkan menggantung di kubah langit, berharap angin mengaraknya menjadi hujan agar menyirami ladangku yang mulai terasa gersang.

Tapi belum nampak tanda-tanda dari langit. Akhirnya ku putuskan aku harus menyongsong takdir itu. Telah ku kumpulkan kekuatan untuk menyongsong badaipun. Aku harus tahu, karena akulah Elang. Elang tak hanya diam menunggu takdir datang.

Di sinilah aku kini. Dalam sebuah gerbong yang bergerak statis dan dipenuhi beragam polah penumpang. Kursi penumpang di sebelahku kosong, sebuah kebetulan yang menyenangkan. Aku sedang tak ingin berbasa-basi. Aku ingin sendiri. 

Ku lepaskan pandangan melewati jendela kaca di sampingku. Ragaku tak dapat memenjarakan anganku yang mulai berlarian liar. Berlompatan menembus ruang dan waktu. Membiarkan fragmen demi fragmen itu terpampang.

****

Tangis Ibu berderai, seiring hujan deras yang menyirami kota kami. Tangannya terus melipat kemeja sekolahku dan memasukkannya ke dalam koper. Aku tertegun menatapnya. Diraihnya lenganku. Tangannya gemetar menarik tubuhku mendekat. Mata indahnya berkabut.

“Kita pulang ke rumah Kakek ya Elang,” bisiknya tersedu.

“Tapi kenapa Bunda?” 

Aku tak mengerti keputusan Ibu yang begitu mendadak. Aku, bocah delapan tahun telah dipaksa mengunyah penganan keras yang membuat gigiku terasa ngilu. 

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti, Sayang. Bunda tidak bisa bersama dengan Ayah lagi. Rumah Kakek masih cukup luas untuk menampung kita.”

Dia mencoba tersenyum. Tapi senyum itu sumbang. Aku tahu hatinya pedih. Tentu saja rumah kakek tak hanya cukup besar, bahkan serasa menelanku. Aku ingat rumah dua lantai dengan balkon indah dan langit-langit tinggi itu dengan pelayan yang hilir mudik, terasa asing bagiku.

Di sinilah tempatku seharusnya. Menatap hijau bukit barisan di kejauhan yang diselimuti halimun setiap pagi. Mendengarkan suara alam yang membuai. Kadang di kejauhan suara Siamang terdengar samar. Mungkin di balik lebatnya hutan yang menutupi Gunung Marapi, Gunung Sanggalang, dan Tandikat itu makhluk rimba itu sedang berayunan dari satu dahan ke dahan lainnya. 

Inilah duniaku. Kadang di akhir pekan Ayah akan membawaku dengan Hardtop-nya menyusuri lekuk bukit barisan sekedar mengiringi matahari tenggelam di bibir laut. Dia tak keberatan duduk di belakang setir satu setengah jam untuk menyambangi Pantai Padang. 

Ketika Ayah asyik melempar pancingnya ke tengah ombak, aku akan mulai dengan kesenanganku. Menumpuk gundukan pasir, membentuk bangunan khayalanku. Bangunan dengan atap bersusun yang menyerupai tanduk kerbau adalah favoritku. Aku selalu memandang Rumah Gadang dengan terkagum-kagum. Aku bangga dalam darahku mengalir darah Minang, negeri para cendekia. 

Byuur…ombak datang menghancurkan bangunan khayalanku. Aku berlari menghampiri bibir ombak, memilih kerikil-kerikil pipih, kemudian… cling cling batu-batu itu pun berlompatan di atas permukaan ombak. Tanganku semakin mahir kini, kerikil-kerikil itu loncatannya semakin jauh. Aku menatap puas. 

“Wa’ang1) belum ingin pulang?” tanya Ayah mulai mengingatkanku jika matahari mulai menepi di kaki langit.

Ayah memamerkan dua ikan Baronang sebesar telapak tangan yang telah disusuknya dengan tali. Dia bangga dengan hasil tangkapannya. Laut memang tak pernah kikir, jika kita meminta.

“Ayah sudah selesai?”

Dia mengangguk. Ku pandangi lelaki tegap bermata elang yang sedang menggulung tali pancing itu. Dia memang Ayahku. Gennya mengalir dalam tubuhku.

Ayah memang hobi memancing. Kadang di waktu luangnya Ayah akan mengajak teman-temannya menyewa perahu motor, pergi melaut. Tapi itu tak sering. Itu hanya dilakukannya jika kesibukannya sedang tak menyita.

Usaha Ayah sedang maju pesat. Kios-kiosnya yang menyediakan barang-barang kerajinan khas daerah Minang: kain tenun Songket, aneka bordiran, kelengkapan upacara adat dan perkawinan – kodek songket, saruang balapak, saruang batabua, selendang batabua tingkuluak tanduak- , dll tambah laris saja. Selain punya pengrajin sendiri, dia juga menampung hasil dari pengrajin setempat, dari daerah Pandai Sikek. 

Dalam darahnya mengalir jiwa usaha, warisan turun temurun. Ayah berharap aku bisa mewarisi bakatnya. Tapi rasanya tidak, aku tak betah jika diajak Ayah menengoki kiosnya. Aku lebih tertarik dengan buku. Bersama buku-buku aku tenggelam dalam duniaku. Tenggelam dalam dongeng-dongeng H.C. Andersen. Membayangkan dunia-dunia yang jauh. Atas semua itu, Ayah menyalahkan Ibuku. Katanya tak seharusnya anak lelaki itu melankolis. Lelaki itu harus kuat, sekuat Elang. 

Karena itu Ayah sering mengajakku ke pantai. Jika senja tiba dia akan menggamit lenganku. Dia menunjuk ke batas cakrawala. Di balik sana ada dunia lain, katanya. Di baliknya lagi masih ada dunia yang lebih luas lagi. Kau Elang, kau bisa menaklukkan dunia provokasinya. Aku menatap senja, meletup dalam imajinasiku sendiri. Tapi senja telah menyatukan kami.


*****

Ibu menyeret koper besar kami ke ruang tamu. Datuk dan Anduang telah menunggu. Tapi mereka tak dapat mencegah kemauan Ibu. 

Mataku panas menahan pedih. Langkahku berat serasa digayuti rantai besi. Ku sembunyikan mataku di balik kerah baju. Ku dekati sepasang manusia setengah baya yang terduduk pasrah di kursi di depanku. Mereka mendekapku bergantian. Pertahananku runtuh. Tangisku pecah. Nada pilu itu terdengar menyanyat.

“Kamu tidak harus pergi, Ais,” kata-kata itu yang terucap dari bibir Datuk kepada Ibuku.

Namun Aisyah, ibuku itu nampaknya telah bulat dengan tekadnya. Sambil menarik tanganku dia menyeret koper berat itu, dan beberapa tas lain yang dicangklong di pundaknya. Langkahku tersendat mengikuti iramanya. Sudut mataku mencari-cari sosok itu. Ayah tak nampak.

Maafkan Ibu membuatmu sedih, Elang. Kamu akan mengerti suatu hari nanti. Ini masalah prinsip, bisik Ibu di atas mobil yang membawa kami ke bandara. Suatu hari menjelang remaja aku mengerti makna prinsip bagi Ibu, bahwa dia tak bersedia dimadu.

Hatiku terasa sunyi. Aku merasa terlempar ke rimba belantara. Terbayang sudah gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi jantung Jakarta. Dan kerlap-kerlip lampu jalanan saat malam tiba, sanggup menyembunyikan sudut-sudut kumuhnya. Senandung alam Padang Panjang terasa bermil-mil jauhnya.

Aku teringat Ayah. Dadaku sesak. Entah kenapa dia tak mengiringi kepergian kami. Terlukakah dia? Aku mencintai lelaki itu, tapi aku juga mengasihi Ibuku. Aku tak sampai hati membiarkan Ibu pergi sendiri. Namun kini aku mulai menyalahkan Ibu, kenapa dia mencabuti ku dari akarku sendiri?

Aku mulai menggugat Ibu dalam hati. Kenapa dia memaksaku memilih? Tak bisakah dia membiarkanku berdiri netral? Tapi mata Ibu yang menyimpan luka itu seolah membutuhkan dukunganku. Aku tak bisa meraba seberapa dalam duka itu. Akankah waktu menyembuhkannya? Mungkin karena itu aku akhirnya memilih. Memilih dengan hati yang pedih. 

1) Wa’ang: kata ganti orang kedua. Untuk berbicara dengan orang yang seumur atau lebih muda



Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/06/17/cinta-akhirnya-harus-memilih/

Ketika Dia Jatuh Cinta Lagi

Kami adalah dua insan dewasa yang berbeda memaknai senja. Baginya senja adalah saat-saat intim dia bercumbu dengan kekasih-Nya. Bersimpuh di atas sajadah panjang, dengan tasbih dan Kitab Suci kecil di ujungnya. Bisikan-bisikan lirih dan isak sekali dua kadang tertangkap telingaku, jika aku tak sedang berselingkuh dengan malam. Semua terasa asing. Aku tak mengerti apa yang dia tangisi. Apa mungkin dia menangisi pernikahan kami yang makin terasa hambar? Entah.

Sementara senjaku bergumul peluh, lengkingan tawa, dan musik bergemuruh. Akulah sang pemuja malam. Senja bagiku tak hanya sebatas langit dan laut yang berpagutan mesra membiarkan matahari melepas lelah setelah seharian menghangatkan bumi. Senja adalah saat aku mengirim dusta demi dusta padanya, dengan alasan klise yang usang. Lembur, meeting, atau bertemu klien mungkin telah memenuhi inbox hpnya. Aku tak punya alasan yang indah lagi untuk dirangkai. Lagipula aku tak peduli apakah dia percaya atau tidak. 

Senjaku akan tetap sama andai dia tak membuat pengakuan itu. Aku mungkin masih betah dalam ruang remang-remang itu, ditemani wanita-wanita berbusana seksi dengan tatapan yang mengundang. Atau mungkin masih bersama teman-teman satu seleraku melepas tawa diiringi dentingan gelas-gelas yang beradu bibir. Sungguh, aku tak perlu termenung menatap senja yang seolah mengejekku. Sementara tanganku menggenggam seikat bunga yang mulai layu. Dan sebuah kotak kecil merah berpita cantik itu tergeletak sia-sia di meja sampingku. Masih tak percaya ku baca ulang surat yang dia tulis. Hanya sebaris isinya, tapi cukup menjelaskan semuanya.

“Aku pulang, Mas. Setelah ini kau bebas mewarnai malammu. Larasati” 


*****

Aku menatap sosok pria berpostur atletis yang melangkah ke arah mejaku. Ayunan langkahnya begitu percaya diri. Dia belum berubah, batinku. Empat tahun aku hampir tak bersua dengannya, setelah tragedi itu. Kami berdiri berhadapan. Dalam jarak sedekat ini, bisa ku baca aura yang tergambar. Nampaknya kebahagiaan melingkupinya kini. Tentu saja, dia telah menemukan cinta sejati seperti yang dicarinya dulu.

Ku genggam tangannya dengan canggung. Tapi ups…dia meranggulku hangat sembari menjabat erat tanganku. Dia telah melupakan peristiwa itu, karena dia telah memenangkan cinta sang dara. Aiga, wanita cerdas berparas menawan yang kami perebutkan dulu telah menjatuhkan pilihan pada Bimo, sahabatku sendiri.

“Apa kabar, bro? Empat tahun, he?” sapanya hangat.

“He eh…baik. Gimana kabar Aiga?” 

Tanyaku bagai bidikan sniper yang jitu ke arah sasaran. Sejenak dia tertegun, namun kemudian dia sanggup menguasai medan. Dia bercerita ringan waktu sang isteri sekarang banyak tercurah untuk si kecil, buah cinta mereka. Anak itu begitu mirip dengan Aiga ujarnya. Sedang lucu-lucunya, membuat aku ingin segera tiba di rumah begitu jam kantor usai, ceritanya santai.

Dia memamerkan photo-photo puteri kecilnya itu dari kamera handphone-nya. Tak salah dia memang jelmaan Aiga. Pose-pose anaknya yang menggemaskan itu, perlahan menerbitkan rasa iri di hatiku. Dan rasa iri itu bagai gelindingan bola salju yang semakin membesar ke bawah.

Mengingatkan ku kembali pada drama satu babak kami yang berakhir tragis di pagi hari nan cerah itu. Satu hook-ku telah merobohkannya, ketika ku terima undangan pernikahan itu. Diam-diam ternyata dia pun mengejar Aiga. Padahal dia tau aku memuja dara itu. Sejak itu aku tak bisa berpura-pura bahwa antara kami tak terjadi apa-apa. Persahabatan kami menjadi hambar. Dan ketika tawaran untuk mengendalikan salah satu pabrik perusahaan kami yang berada di pinggiran Jakarta diberikan padaku, kesempatan itu langsung ku sambar. Sejak itu aku kehilangan kontak dengannya. 

Kini aku yang mengundangnya bertemu. Mestinya telah ku antisipasi sebelumnya jika bertemu lagi dengannya, cerita lama itu akan tergelar kembali. Kenapa aku masih terusik? Mungkinkah aku belum legawa? Atau ini hanya rasa egoku karena merasa telah dikalahkan? Jangan sebut namaku Elang, itu yang selalu ku katakan dulu. Tapi ternyata jiwaku tak sebesar namaku. Setidaknya itu yang ku rasakan kini.

Jeda keheningan itu koyak ketika salah satu pramusaji menghampiri meja kami dengan daftar menu di tangan. Tak butuh waktu lama bagi Bimo untuk menemukan menu kegemarannya.

Ice Jasmine Green Tea dan Barbeque French Fries,” putusnya sambil menyodorkan buku menu itu kembali. 

Setelah menimbang sejenak aku memutuskan memilih Clovaroma. Teh dengan campuran cengkeh itu kedengarannya cukup menggoda. 

Kami berdua adalah penggila teh, dan pilihan kami dulu biasanya di sini untuk menghabiskan waktu luang. Suasana di sini cukup private dan cozy untuk ngobrol ngolor-ngidul. Tapi itu dulu, ketika hati kami belum berjarak. 

“Enggak pesan makan, bro?” tanyanya heran

“Lagi nggak selera nih,” jawabku jujur

Dia menatap mataku sekilas, mencoba mencari jawaban di sana. 

“Apa yang membawa kita ke sini, bro?”

Dia menyerah untuk terus menebak-nebak. 

“Siapakah pria itu, Bimo?”

Alisnya berkerut. Dia belum mengerti arah pertanyaanku.

“Pria siapa maksudmu?”

“Pria yang mendekati Laras, isteriku.”

Dia menegakkan bahunya, kemudian perlahan menggeser duduknya. Dia menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya menyipit. Mungkin dia sedang memilih kalimat yang tepat. Kemudian mengalirlah cerita itu. 

Pilihanku untuk menemui Bimo tak salah. Aku yakin Laras masih tetap bersahabat dengannya, walau dia tahu aku telah berusaha menghapus nama Bimo dari daftar temanku.

Apa masalahmu, gugatnya padaku. Kenapa wanita semulia Laras kau sia-siakan juga? Tidak cukupkah petualanganmu dulu? Dia kembali mengoyak harga diriku. Aku tersulut. Tidak cukupkah satu hook- ku dulu telah merobohkanmu? Tapi tidak, bukankah yang dia katakan semuanya benar.

Tiga tahun pernikahan kami, berapa banyak kebahagiaan yang telah ku persembahkan pada Laras? Seingatku malam-malam bergairah kami hanya di tahun-tahun awal pernikahan. Setelah itu aku tenggelam dalam dunia gemerlap. Membiarkan lauk-pauk yang dihangatkannya untukku setiap malam menjadi dingin dan hambar. Membiarkan dia seringkali tertidur di sofa menungguiku hingga larut malam. Bahkan mengabaikan cinta dan perhatian-perhatian kecilnya. 

Dia tak pernah protes dengan sikapku. Hemm…mungkin dia tipe wanita Jawa yang mengabdi dan nrimo. Dia tenang bak telaga. Nyaris tanpa gejolak. Aku ingin yang lebih bertenaga. Seperti laut dengan gelombangnya yang sanggup menghancurkan karang. Atau seperti sungai beraliran deras dengan jeramnya yang menantang. 

Tapi malam itu ada yang berbeda. Sinar matanya menyampaikan sinyal bahwa dia telah lelah menungguku. Kita harus bicara Mas, katanya hati-hati. Dia duduk di ujung ranjang menungguiku berganti pakaian. Bicaralah ujarku sambil meneruskan aktivitasku. Aku memang telah menunggu, jika dia protes dengan sikapku selama ini. Tapi tidak…

“Maafkan aku jika ini akan melukaimu,” ujarnya hati-hati.

Aku belum tersentuh.

“Aku jatuh cinta lagi.”

Aku menoleh. Titik-titik air bening itu mulai menggenangi sudut matanya. Tak yakin, ku tatap dia. Berusaha menyelam ke dalam telaga itu. Tapi telaga itu keruh, dasarnya tak tampak. Permukaan telaga itu hanya menampilkan seraut wajah pasi. Wajah pasi seseorang lelaki yang terkejut dengan keterus terangan isterinya.

“Kamu bercanda kan?” tanyaku masih tak percaya

“Enggak, aku serius Mas,” jawabnya terbata. Dia menyusut sudut matanya dengan jemarinya.

“Seberapa jauh?”

“Bukankah tidak penting seberapa jauh. Tapi ketika aku telah membayangkan sosok lelaki lain dalam malam-malamku, maka aku telah mengkhianatimu, Mas,” jelasnya jujur.

Aku tertohok. Betapa jujur wanita ini. Apa sebutan bagi laki-laki sepertiku, yang menghabiskan malam mencumbui wanita-wanita bergincu tebal dan harum tubuh yang mengundang di klub-klub malam? Kenapa aku tak pernah merasa mengkhianatinya? 

“Semua keputusan ada di tanganmu kini, Mas. Apapun itu akan ku terima dengan lapang dada.”
Aku berusaha meraih jemarinya, namun dia menepisnya. Bulir-bulir airmata itu semakin deras. Malam itu kami tidur berlainan kamar.
*****
Suara Bimo kembali menarikku ke dunia nyata. Jangan salahkan mereka, katanya. Bukankah Laras berhak mencari kebahagiaan yang tidak kau berikan? Dan lelaki mana yang tidak tersentuh hatinya melihat wanita selembut Laras disia-siakan. Pria itu hanya mengisi ruang kosong di hati isterimu, nasehatnya bijak.

Kau harus berjuang untuk meraih hati Laras kembali. Kau nakhodanya. Selamatkan bahtera itu, jangan biarkan karam. Provokasi Bimo membangkitkan harga diriku kembali. 

“Selamat berjuang. Sahabat adalah orang yang berani mengatakan kebenaran, meskipun itu pahit,” rangkul Bimo sebelum kami berpisah sore itu.

Dan ku pacu CRV-ku membelah lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Di sebuah mall aku sempatkan mampir ke sebuah toko jewelry. Sebuah cincin bermata jeli akan ku persembahkan untuknya. Aku tahu Laras bukan termasuk wanita penggila perhiasan. Tapi dia menyukai cincin. Aku yakin dia akan menyukai cincin yang ku pilih. Ditambah seikat bunga, cukupkah menebus kesalahanku?


*****
Senja perlahan pamit. Udara malam berhembus pelan, menggoyang pucuk-pucuk daun mangga di sudut halaman. Simfoni itu terdengar lirih, menyatu dalam malam yang merambat turun.

Kemudian samar-samar suara gamelan menembus malam. Dan sosok-sosok penari rupawan dalam gerak gemulai menaiki panggung. Suara sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas, memulai epos legendaris: Kisah Ramayana.

Di sanalah, di sebuah daerah yang dipenuhi jejak-jejak sejarah yang masih terbaca jelas aku akan menjemput Larasati. Jogja, tunggu… akan ku rengkuh hatinya kembali. Hatiku telah dipenuhi tekad baru. 

Aku beranjak dari teras, memasuki rumahku yang terasa sunyi….


Kebon Jeruk, 11 Mei 2011

Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/05/11/ketika-dia-jatuh-cinta-lagi/

Jangan Panggil Aku Elang

kau bilang aku gila
kataku berdua kita gila
kita telah dibakar hasrat
kau hanya sanggup mengulum resah

kau bilang aku kejam
tanyaku kejaman mana
kebohongan yang manis atau kejujuran yang menikam?
kau terdiam dalam kelam

kau bilang aku bajingan
kataku salahmu sendiri
kau telah terjerat
dalam puja-puji dan puisi-puisi penghantar sepi

apalagi serapahmu kini?
*****
“Ada kiriman bunga buat lu, bro!”

Pagi-pagi Bimo telah memamerkan sebaris gigi cemerlangnya, sambil menunjuk vas berisi bunga di sudut mejaku. Ku lirik sekilas seikat kecil mawar merah berpita pink itu, sembari menghempaskan pantat di kursi empukku. Gila, itu bunga kesekian yang kembali. Tandanya aku belum sanggup mencairkan hati perempuan itu. Terbuat dari apa sih hatinya, rutukku.

Bimo membaca kekesalanku. Dicarinya mataku. Namun aku jengah ditatap seperti itu. Sumpah, senyum itu membuat aku ingin menonjok wajah tampannya. Aku tahu senyum itu, sebuah senyum kemenangan. Ketika kuda-kudanya berhasil menembus bentengku. Berarti aku harus bersiap-siap dengan taruhan kami. Taruhan edan itu. Bukan taruhan seperti biasa, ketika salah satu dari kami yang kalah harus merogoh koceknya. Bukan kafé bernuansa romantis, tea addict, dengan aroma tehnya yang digilai atau tempat-tempat lainnya yang menunggu disambangi. Tapi aku harus siap-siap angkat kaki dari ruangan nyaman ini, dan sekian minggu menaruh meja kerjaku di koridor depan ruangan kami. Bayangkan, aku akan jadi bahan lelucon sekian ratus pasang mata di kantor ini.

“Waktu kita belum deadline, bro,” ingatku pada Bimo.

Ku tarik kertas kecil yang menempel pada seikat mawar manis itu. Sebuah tulisan pendek dari sang dara “Maaf, aku tidak sanggup merawat bunga ini. Aku takut layu. Aiga”

Ku sobek-sobek kertas itu hingga jadi serpihan kecil, dan ku lemparkan dalam bak sampah di samping meja. Sedikit kekesalanku tersalurkan. Bimo masih dengan senyum menawannya yang menyebalkan.

“Jangan panggil gue Elang, kalau dia tidak berhasil gue taklukkan,” sesumbarku sambil berlalu menepis jengah.

*****

Sebut namaku Elang. Aku pasti akan mengirimkan senyum menawan itu. Senyum yang membuat puluhan wanita rela berkompetisi untuk mendapatkannya. Entah kenapa orang tuaku memberi nama itu. Mungkin dulu mereka berharap jika besar aku akan jadi setangguh elang. Dalam beberapa sisi harapan mereka terkabul sudah.

Naluri pemburu dalam diriku tak pernah mati. Dan aku punya radar setajam elang untuk memilih sasaran. Jangan tanya kenapa. Mungkin benar jika orang bijak berkata bahwa nama itu mengandung doa. Mengutip iklan sebuah rokok “pria punya selera”, aku memang berselera. Sori, sedikit narsis hehehe. Yang jelas koleksi perempuan-perempuan molek itu sudah puluhan dalam daftarku.

Bak elang, naluriku akan tertantang begitu melihat sasaran yang masih samar-samar. Ingin ku sibak misteri itu. Dan kepuasan terbesar melihat mangsaku terkapar tak berdaya. Kejam? Jangan panggil aku Elang, jika tak begitu. Aku terlahir sebagai seorang pemburu.

Coba ku ingat-ingat dulu. Apa kurangnya Sonya? Cantik, terdidik, dan terhormat. Tapi ku biarkan airmatanya berderai ketika ku sampaikan hubungan kami sampai di sini saja. Rani? Dia seksi, manja, dan mempesona. Tapi toh dia tersingkir juga dari hatiku. Belum lagi Siska, Tania, Laras, Sofi, dan nama-nama lain yang tidak mampu ku ingat lagi. Sama, nasib mereka berakhir mengenaskan baru di babak awal. Dan aku punya segudang alasan ketika teman-teman dan keluarga mulai mempertanyakan hubunganku yang kembali kandas.

Dia terlalu mengintervensi, alasanku tentang Sonya. Dia matre, dalihku tentang Rani. Come on bro, pada dasarnya wanita itu menyukai materi, Bimo mengingatkan. Tapi dia beda, dia sudah mendewakannya. Jika sudah begitu Bimo akan angkat tangan. Lagi pula aku curiga dia menikmati kelajanganku. Setidaknya jika aku tetap lajang, dia masih punya teman menghabiskan malam. Ini sih prediksiku, tapi tidak bagi Bimo.

“Kita berbeda bro,” kata Bimo suatu kali.

“Apanya yang beda? Gue Elang, kalau lu macan?” aku tergelak.

“Bukan, gue mencari hubungan yang hakiki. Gue konvensional bro. Seorang pecinta sejati. Gue mencari itu…”

“Apa?”

True love.”

“Hahahaha, itu cuma ada di novel-novel picisan bro,” aku tergelak hingga mengeluarkan airmata. Tak ku kira sahabatku yang cerdas, tampan, dan berkarir mapan itu orang yang naïf.

whatever you say bro, yang jelas cinta sejati itu ada. Taj mahal itu sebuah kisah yang fenomenal bukan?”

“Mereka hidup zaman kuda gigit besi bro, hehehe. Ini zaman instan.”

Perbedaan visi antara aku dan Bimo tetap menjadikan kami sepasang sahabat. Karena kami masih di jalan yang sama… pencarian panjang. Bedanya Bimo berharap suatu hari nanti perahunya akan bersandar di sebuah dermaga antah berantah, sedang aku?


*****

Langkahku terasa menggayut pagi ini. Ku bawa CRV putih metalikku dalam lamunan. Pagi ini ketika berkaca di cermin, ku temukan uban itu. What’s? Aku terpekik mendapatinya. Usiaku tiga puluh kini. Posturku masih tegap. Wajah tampan dengan alis tebal, dan mata setajam elang, masih jelas tergambar di cermin. Tapi uban itu telah jadi alarm… bahwa hidup terus bergerak maju. Umurku bertambah, dan jatah hidupku berkurang.

Aku Elang. Lahir dari keluarga terpandang, dan beralaskan selimut sutera. Dengan otak yang encer, beasiswa demi beasiswa telah ku raih. Karirku pun cemerlang. Dalam usia semuda ini sebuah jabatan prestisius di sebuah perusahaan PMA terkemuka telah di tangan. Kurang apa lagi? Hidupku nyaris sempurna. Mengalir ringan, tanpa beban. Mungkin tantangan itu ada dalam petualangan asmaraku. Dan Aiga? Sudah berapa bulan ini hatiku jumpalitan tiap kali mengingatnya. Sekedar bersua saja akan membawa malamku panjang dalam lamunan. Walau bunga-bunga yang ku kirimkan selalu saja kembali.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pagi ini aku satu lift dengan sang dara. Berdua saja. Oh Tuhan, tolong redakan jantungku. Jangan sampai dia melihatku begitu nervous. Ku tatap matanya. Mata indah dan terpancar cerdas. Potongan rambut pendek, senada dengan busananya yang kasual. Lipstik tipis memperindah bibirnya. Dia balas menatapku, sedikit saja. Tapi itu cukup membuat darahku terpompa ke jantung, deras. Ke mana hilangnya naluri pemburu itu? Aku kehilangan kata-kata. Senyap.

Aku yakin Aiga tau aku yang mengiriminya bunga-bunga itu. Cewek-cewek di divisinya pasti banyak membicarakanku. Dia salah satu tenaga IT yang baru saja direkrut. Dia lulusan sebuah perguruan tinggi ternama. Cerdas pasti. Tapi dia berbeda. Dia sulit terjangkau. Tempatnya tinggi, setidaknya itu di mataku. Atau jangan-jangan aku telah jatuh cinta?

Bimo pasti heran melihatku. Di depannya ada jelmaan seekor kucing jantan dengan bulu kuyup dan napas ngos-ngosan menata hati.

“Kenapa lu, bro?”

“Gue mau meriiit Bim,” jawabku yakin.

“Dengan siapa?”

“Aiga… siapa lagi.”

Wait a minute bro… kenapa lu begitu yakin Aiga mau merit sama lu?”

“Jangan panggil gue Elang…”

“Baca dulu undangan itu.”

Sebuah undangan berwarna nila berpita indah tergeletak di atas mejaku. Gemetar ku raih, dan ku buka sampulnya. Nama yang tertera dengan tulisan perak itu telah menembak kesadaranku, tepat di jantung. Sejuta makian dan sumpah serapah yang ingin ku kirim kan, tapi hanya satu yang terucap…

“Pengkhianat kamu, Bim ,” umpatku.

Bara itu terasa membakar. Otot-ototku serasa menegang. Dan sekepal tinju ku kirimkan ke wajah tampan itu. Dia terhuyung dan terjatuh di samping sofanya. Tapi sedetik kemudian dia bangkit sambil mengusap pelipisnya. 

“Hidup itu pilihan bro. Dan dia lebih memilih gue,” ujarnya santai.

Adakah rasa sakit yang lebih menghujam dibandingkan sebuah pengkhianatan? Jantungku serasa ditikam, menyisakan luka yang menganga dalam. Aku terhuyung dan terduduk di kursiku. Sayap-sayapku telah patah kini, dan aku terjatuh dari ketinggian. Melayang dalam semesta tak terjangkau.


Kebon Jeruk, Maret 2011

Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/25/jangan-panggil-aku-elang/

Untuk Isteriku, yang Tertidur di Kamar No.1313

Teruntuk : Isteriku, yang tertidur di bangku, Kamar 1313, Rumah Sakit Khusus Kanker, Luar Indonesia
Sayang, aku sudah membaca suratmu..tanganku tak mampu menjangkau kertas yang ada di bawah tempat tidur..jadi, aku menulisnya di sini saja ya..bagian belakang dari suratmu saja..meskipun tanganku lemah dan gemetaran, tapi aku harus menuliskan untukmu, untuk menggantikan kata-kata dari mulutku yang susah untuk terucap.
Sayang, akhirnya..aku bisa mendengar dengkuran halusmu juga..Kau terlalu lelah, terkantuk-kantuk sayang..menjagaku dan meyakinkanku bahwa sakitku ini akan baik-baik saja. Kau tahu tidak, bahwa setiap kali aku menutup mata dan Tuhan memberikanku kesempatan untuk membuka mata kembali, yang pertama sekali kucari adalah dirimu. Untuk memastikan, kau ada disisiku..Aku merasa lemah tanpamu, sayang.
Isteriku yang sangat..sangat kucintai..izinkan aku menangis dalam dekapanmu, dan memohon maaf padamu…ketika segala hal yang pernah kujanjikan padamu tak bisa terjadi dengan begitu mudahnya. Karena tak pernah terlintas di pikiranku, bahwa aku akan mengidap penyakit ini. Penyakit yang membuat hidupku hancur berantakan. Tak pernah sayang..tak pernah!
Penyakit yang kita kira hanya encok itu, sebenarnya tak salah juga. Karena sebenarnya itu adalah jalan pembuka, kita mengetahui penyakitku. Meskipun awalnya salah diagnosa, tapi aku bersyukur, kita akhirnya mengetahui penyakitku dengan jelas. Karena dengan begitu, kita bisa mengambil usaha yang paling maksimal untuk menyembuhkannya. Salah satunya dengan berada di rumah sakit ini.
Sayangku, memang…tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa sakitnya yang kurasakan. Dimulai dari vonis dokter akan penyakit yang kuderita, berapa lama aku akan hidup, bahkan kenyataan kalau aku harus meninggalkan kalian. Ah..sakit dadaku, sayang…sakit..aku tak siap.
Tapi, semuanya itu berangsur-angsur aku ikhlaskan. Cintaku yang begitu besar padamu, rasanya tak seimbang dengan cintamu yang lebih besar padaku. Kesungguhanmu merawatku sungguh membuatku seakan raja. Kau tak sungkan dan tak pernah mengeluh. Aduh…aku sangat bahagia, apalagi ketika kau dengan tenangnya mendorongku di kursi roda ini, hanya untuk mencari udara segar. Kau tak malu menemaniku. Kau menjadi pembaca berita yang baik, yang selalu meng-update hal yang aku suka, otomotif. Kalau ini terjadi pada orang lain, mungkin wanita itu akan pergi meninggalkan suaminya. Engkau berbeda, isteriku…kau setia menemaniku. Keikhlasanmu menerima kondisiku yang begini, membuktikan bahwa aku tak salah meminangmu menjadi isteriku. Aku menang, isteriku..sampai detik ini, aku meyakinkan diriku bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang ada dihatiku.
Sekarang, aku menghadapi sakit ini dengan senyuman. Apalagi, setiap menit kau ada disisiku. Aku yakin, aku akan sembuh dari kanker ini. Aku tak perduli dengan vonis 10 bulan itu, sayang..aku bisa! Kita akan bersama, selama yang Tuhan izinkan pada kita. Radioterapi, Kemoterapi…ah…aku tak merasakan sakitnya lagi. Muntah-muntah yang aku alami, hanya bagian dari proses kesembuhanku. Kalau aku tak bisa tidur, aku pun menganggap bahwa itu bagian dari prosesku untuk cepat sembuh. Meskipun terkadang aku takut, mataku tak mampu terbuka lagi. Tapi itu segera sirna, dengan kepasrahanku padaNya dan hangatnya pelukanmu padaku. Ini semua demi kita berdua, dan demi Pasha dan Hafiz. Kalianlah semangatku untuk hidup, dan mempercepat proses penyembuhanku.
Sekembalinya kita dari sini, kita akan ‘menepi’ dari hiruk pikuk. Kita akan kembali ke rumah kita yang sederhana, sampai waktuku kan tiba. Aku ingin selalu didekatmu, bersama anak-anak kita. Berceloteh dengan riang, melupakan apa yang aku alami. Meskipun kita tak banyak bicara, karena kesusahanku untuk mengucap kata, tapi aku tahu, bahwa kau sangat lelah karena cintamu. Aku takut, kau sakit, sayang…
Sayang, maafkan aku, karena aku tak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu, dan menjadi ayah yang paling membanggakan untuk buah hati kita.
Surat ini aku letakkan di dadaku, sehingga ketika kau terbangun, kau segera menemukannya. Percayalah sayang, meskipun aku tak bisa mengucapkannya, engkau pasti tahu, aku sangat mencintaimu.
Dari : suamimu, yang sangat…sangat…sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu.. 



Vera

Senang mengamati

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/08/16/untuk-isteriku-yang-tertidur-di-kamar-no1313/ 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money