Selasa, 16 Agustus 2011

Untuk Isteriku, yang Tertidur di Kamar No.1313

Teruntuk : Isteriku, yang tertidur di bangku, Kamar 1313, Rumah Sakit Khusus Kanker, Luar Indonesia
Sayang, aku sudah membaca suratmu..tanganku tak mampu menjangkau kertas yang ada di bawah tempat tidur..jadi, aku menulisnya di sini saja ya..bagian belakang dari suratmu saja..meskipun tanganku lemah dan gemetaran, tapi aku harus menuliskan untukmu, untuk menggantikan kata-kata dari mulutku yang susah untuk terucap.
Sayang, akhirnya..aku bisa mendengar dengkuran halusmu juga..Kau terlalu lelah, terkantuk-kantuk sayang..menjagaku dan meyakinkanku bahwa sakitku ini akan baik-baik saja. Kau tahu tidak, bahwa setiap kali aku menutup mata dan Tuhan memberikanku kesempatan untuk membuka mata kembali, yang pertama sekali kucari adalah dirimu. Untuk memastikan, kau ada disisiku..Aku merasa lemah tanpamu, sayang.
Isteriku yang sangat..sangat kucintai..izinkan aku menangis dalam dekapanmu, dan memohon maaf padamu…ketika segala hal yang pernah kujanjikan padamu tak bisa terjadi dengan begitu mudahnya. Karena tak pernah terlintas di pikiranku, bahwa aku akan mengidap penyakit ini. Penyakit yang membuat hidupku hancur berantakan. Tak pernah sayang..tak pernah!
Penyakit yang kita kira hanya encok itu, sebenarnya tak salah juga. Karena sebenarnya itu adalah jalan pembuka, kita mengetahui penyakitku. Meskipun awalnya salah diagnosa, tapi aku bersyukur, kita akhirnya mengetahui penyakitku dengan jelas. Karena dengan begitu, kita bisa mengambil usaha yang paling maksimal untuk menyembuhkannya. Salah satunya dengan berada di rumah sakit ini.
Sayangku, memang…tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa sakitnya yang kurasakan. Dimulai dari vonis dokter akan penyakit yang kuderita, berapa lama aku akan hidup, bahkan kenyataan kalau aku harus meninggalkan kalian. Ah..sakit dadaku, sayang…sakit..aku tak siap.
Tapi, semuanya itu berangsur-angsur aku ikhlaskan. Cintaku yang begitu besar padamu, rasanya tak seimbang dengan cintamu yang lebih besar padaku. Kesungguhanmu merawatku sungguh membuatku seakan raja. Kau tak sungkan dan tak pernah mengeluh. Aduh…aku sangat bahagia, apalagi ketika kau dengan tenangnya mendorongku di kursi roda ini, hanya untuk mencari udara segar. Kau tak malu menemaniku. Kau menjadi pembaca berita yang baik, yang selalu meng-update hal yang aku suka, otomotif. Kalau ini terjadi pada orang lain, mungkin wanita itu akan pergi meninggalkan suaminya. Engkau berbeda, isteriku…kau setia menemaniku. Keikhlasanmu menerima kondisiku yang begini, membuktikan bahwa aku tak salah meminangmu menjadi isteriku. Aku menang, isteriku..sampai detik ini, aku meyakinkan diriku bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang ada dihatiku.
Sekarang, aku menghadapi sakit ini dengan senyuman. Apalagi, setiap menit kau ada disisiku. Aku yakin, aku akan sembuh dari kanker ini. Aku tak perduli dengan vonis 10 bulan itu, sayang..aku bisa! Kita akan bersama, selama yang Tuhan izinkan pada kita. Radioterapi, Kemoterapi…ah…aku tak merasakan sakitnya lagi. Muntah-muntah yang aku alami, hanya bagian dari proses kesembuhanku. Kalau aku tak bisa tidur, aku pun menganggap bahwa itu bagian dari prosesku untuk cepat sembuh. Meskipun terkadang aku takut, mataku tak mampu terbuka lagi. Tapi itu segera sirna, dengan kepasrahanku padaNya dan hangatnya pelukanmu padaku. Ini semua demi kita berdua, dan demi Pasha dan Hafiz. Kalianlah semangatku untuk hidup, dan mempercepat proses penyembuhanku.
Sekembalinya kita dari sini, kita akan ‘menepi’ dari hiruk pikuk. Kita akan kembali ke rumah kita yang sederhana, sampai waktuku kan tiba. Aku ingin selalu didekatmu, bersama anak-anak kita. Berceloteh dengan riang, melupakan apa yang aku alami. Meskipun kita tak banyak bicara, karena kesusahanku untuk mengucap kata, tapi aku tahu, bahwa kau sangat lelah karena cintamu. Aku takut, kau sakit, sayang…
Sayang, maafkan aku, karena aku tak bisa menjadi suami yang sempurna untukmu, dan menjadi ayah yang paling membanggakan untuk buah hati kita.
Surat ini aku letakkan di dadaku, sehingga ketika kau terbangun, kau segera menemukannya. Percayalah sayang, meskipun aku tak bisa mengucapkannya, engkau pasti tahu, aku sangat mencintaimu.
Dari : suamimu, yang sangat…sangat…sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu.. 



Vera

Senang mengamati

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/08/16/untuk-isteriku-yang-tertidur-di-kamar-no1313/ 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money