Selasa, 16 Agustus 2011

Jangan Panggil Aku Elang

kau bilang aku gila
kataku berdua kita gila
kita telah dibakar hasrat
kau hanya sanggup mengulum resah

kau bilang aku kejam
tanyaku kejaman mana
kebohongan yang manis atau kejujuran yang menikam?
kau terdiam dalam kelam

kau bilang aku bajingan
kataku salahmu sendiri
kau telah terjerat
dalam puja-puji dan puisi-puisi penghantar sepi

apalagi serapahmu kini?
*****
“Ada kiriman bunga buat lu, bro!”

Pagi-pagi Bimo telah memamerkan sebaris gigi cemerlangnya, sambil menunjuk vas berisi bunga di sudut mejaku. Ku lirik sekilas seikat kecil mawar merah berpita pink itu, sembari menghempaskan pantat di kursi empukku. Gila, itu bunga kesekian yang kembali. Tandanya aku belum sanggup mencairkan hati perempuan itu. Terbuat dari apa sih hatinya, rutukku.

Bimo membaca kekesalanku. Dicarinya mataku. Namun aku jengah ditatap seperti itu. Sumpah, senyum itu membuat aku ingin menonjok wajah tampannya. Aku tahu senyum itu, sebuah senyum kemenangan. Ketika kuda-kudanya berhasil menembus bentengku. Berarti aku harus bersiap-siap dengan taruhan kami. Taruhan edan itu. Bukan taruhan seperti biasa, ketika salah satu dari kami yang kalah harus merogoh koceknya. Bukan kafé bernuansa romantis, tea addict, dengan aroma tehnya yang digilai atau tempat-tempat lainnya yang menunggu disambangi. Tapi aku harus siap-siap angkat kaki dari ruangan nyaman ini, dan sekian minggu menaruh meja kerjaku di koridor depan ruangan kami. Bayangkan, aku akan jadi bahan lelucon sekian ratus pasang mata di kantor ini.

“Waktu kita belum deadline, bro,” ingatku pada Bimo.

Ku tarik kertas kecil yang menempel pada seikat mawar manis itu. Sebuah tulisan pendek dari sang dara “Maaf, aku tidak sanggup merawat bunga ini. Aku takut layu. Aiga”

Ku sobek-sobek kertas itu hingga jadi serpihan kecil, dan ku lemparkan dalam bak sampah di samping meja. Sedikit kekesalanku tersalurkan. Bimo masih dengan senyum menawannya yang menyebalkan.

“Jangan panggil gue Elang, kalau dia tidak berhasil gue taklukkan,” sesumbarku sambil berlalu menepis jengah.

*****

Sebut namaku Elang. Aku pasti akan mengirimkan senyum menawan itu. Senyum yang membuat puluhan wanita rela berkompetisi untuk mendapatkannya. Entah kenapa orang tuaku memberi nama itu. Mungkin dulu mereka berharap jika besar aku akan jadi setangguh elang. Dalam beberapa sisi harapan mereka terkabul sudah.

Naluri pemburu dalam diriku tak pernah mati. Dan aku punya radar setajam elang untuk memilih sasaran. Jangan tanya kenapa. Mungkin benar jika orang bijak berkata bahwa nama itu mengandung doa. Mengutip iklan sebuah rokok “pria punya selera”, aku memang berselera. Sori, sedikit narsis hehehe. Yang jelas koleksi perempuan-perempuan molek itu sudah puluhan dalam daftarku.

Bak elang, naluriku akan tertantang begitu melihat sasaran yang masih samar-samar. Ingin ku sibak misteri itu. Dan kepuasan terbesar melihat mangsaku terkapar tak berdaya. Kejam? Jangan panggil aku Elang, jika tak begitu. Aku terlahir sebagai seorang pemburu.

Coba ku ingat-ingat dulu. Apa kurangnya Sonya? Cantik, terdidik, dan terhormat. Tapi ku biarkan airmatanya berderai ketika ku sampaikan hubungan kami sampai di sini saja. Rani? Dia seksi, manja, dan mempesona. Tapi toh dia tersingkir juga dari hatiku. Belum lagi Siska, Tania, Laras, Sofi, dan nama-nama lain yang tidak mampu ku ingat lagi. Sama, nasib mereka berakhir mengenaskan baru di babak awal. Dan aku punya segudang alasan ketika teman-teman dan keluarga mulai mempertanyakan hubunganku yang kembali kandas.

Dia terlalu mengintervensi, alasanku tentang Sonya. Dia matre, dalihku tentang Rani. Come on bro, pada dasarnya wanita itu menyukai materi, Bimo mengingatkan. Tapi dia beda, dia sudah mendewakannya. Jika sudah begitu Bimo akan angkat tangan. Lagi pula aku curiga dia menikmati kelajanganku. Setidaknya jika aku tetap lajang, dia masih punya teman menghabiskan malam. Ini sih prediksiku, tapi tidak bagi Bimo.

“Kita berbeda bro,” kata Bimo suatu kali.

“Apanya yang beda? Gue Elang, kalau lu macan?” aku tergelak.

“Bukan, gue mencari hubungan yang hakiki. Gue konvensional bro. Seorang pecinta sejati. Gue mencari itu…”

“Apa?”

True love.”

“Hahahaha, itu cuma ada di novel-novel picisan bro,” aku tergelak hingga mengeluarkan airmata. Tak ku kira sahabatku yang cerdas, tampan, dan berkarir mapan itu orang yang naïf.

whatever you say bro, yang jelas cinta sejati itu ada. Taj mahal itu sebuah kisah yang fenomenal bukan?”

“Mereka hidup zaman kuda gigit besi bro, hehehe. Ini zaman instan.”

Perbedaan visi antara aku dan Bimo tetap menjadikan kami sepasang sahabat. Karena kami masih di jalan yang sama… pencarian panjang. Bedanya Bimo berharap suatu hari nanti perahunya akan bersandar di sebuah dermaga antah berantah, sedang aku?


*****

Langkahku terasa menggayut pagi ini. Ku bawa CRV putih metalikku dalam lamunan. Pagi ini ketika berkaca di cermin, ku temukan uban itu. What’s? Aku terpekik mendapatinya. Usiaku tiga puluh kini. Posturku masih tegap. Wajah tampan dengan alis tebal, dan mata setajam elang, masih jelas tergambar di cermin. Tapi uban itu telah jadi alarm… bahwa hidup terus bergerak maju. Umurku bertambah, dan jatah hidupku berkurang.

Aku Elang. Lahir dari keluarga terpandang, dan beralaskan selimut sutera. Dengan otak yang encer, beasiswa demi beasiswa telah ku raih. Karirku pun cemerlang. Dalam usia semuda ini sebuah jabatan prestisius di sebuah perusahaan PMA terkemuka telah di tangan. Kurang apa lagi? Hidupku nyaris sempurna. Mengalir ringan, tanpa beban. Mungkin tantangan itu ada dalam petualangan asmaraku. Dan Aiga? Sudah berapa bulan ini hatiku jumpalitan tiap kali mengingatnya. Sekedar bersua saja akan membawa malamku panjang dalam lamunan. Walau bunga-bunga yang ku kirimkan selalu saja kembali.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pagi ini aku satu lift dengan sang dara. Berdua saja. Oh Tuhan, tolong redakan jantungku. Jangan sampai dia melihatku begitu nervous. Ku tatap matanya. Mata indah dan terpancar cerdas. Potongan rambut pendek, senada dengan busananya yang kasual. Lipstik tipis memperindah bibirnya. Dia balas menatapku, sedikit saja. Tapi itu cukup membuat darahku terpompa ke jantung, deras. Ke mana hilangnya naluri pemburu itu? Aku kehilangan kata-kata. Senyap.

Aku yakin Aiga tau aku yang mengiriminya bunga-bunga itu. Cewek-cewek di divisinya pasti banyak membicarakanku. Dia salah satu tenaga IT yang baru saja direkrut. Dia lulusan sebuah perguruan tinggi ternama. Cerdas pasti. Tapi dia berbeda. Dia sulit terjangkau. Tempatnya tinggi, setidaknya itu di mataku. Atau jangan-jangan aku telah jatuh cinta?

Bimo pasti heran melihatku. Di depannya ada jelmaan seekor kucing jantan dengan bulu kuyup dan napas ngos-ngosan menata hati.

“Kenapa lu, bro?”

“Gue mau meriiit Bim,” jawabku yakin.

“Dengan siapa?”

“Aiga… siapa lagi.”

Wait a minute bro… kenapa lu begitu yakin Aiga mau merit sama lu?”

“Jangan panggil gue Elang…”

“Baca dulu undangan itu.”

Sebuah undangan berwarna nila berpita indah tergeletak di atas mejaku. Gemetar ku raih, dan ku buka sampulnya. Nama yang tertera dengan tulisan perak itu telah menembak kesadaranku, tepat di jantung. Sejuta makian dan sumpah serapah yang ingin ku kirim kan, tapi hanya satu yang terucap…

“Pengkhianat kamu, Bim ,” umpatku.

Bara itu terasa membakar. Otot-ototku serasa menegang. Dan sekepal tinju ku kirimkan ke wajah tampan itu. Dia terhuyung dan terjatuh di samping sofanya. Tapi sedetik kemudian dia bangkit sambil mengusap pelipisnya. 

“Hidup itu pilihan bro. Dan dia lebih memilih gue,” ujarnya santai.

Adakah rasa sakit yang lebih menghujam dibandingkan sebuah pengkhianatan? Jantungku serasa ditikam, menyisakan luka yang menganga dalam. Aku terhuyung dan terduduk di kursiku. Sayap-sayapku telah patah kini, dan aku terjatuh dari ketinggian. Melayang dalam semesta tak terjangkau.


Kebon Jeruk, Maret 2011

Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/25/jangan-panggil-aku-elang/

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money