Selasa, 16 Agustus 2011

Ketika Dia Jatuh Cinta Lagi

Kami adalah dua insan dewasa yang berbeda memaknai senja. Baginya senja adalah saat-saat intim dia bercumbu dengan kekasih-Nya. Bersimpuh di atas sajadah panjang, dengan tasbih dan Kitab Suci kecil di ujungnya. Bisikan-bisikan lirih dan isak sekali dua kadang tertangkap telingaku, jika aku tak sedang berselingkuh dengan malam. Semua terasa asing. Aku tak mengerti apa yang dia tangisi. Apa mungkin dia menangisi pernikahan kami yang makin terasa hambar? Entah.

Sementara senjaku bergumul peluh, lengkingan tawa, dan musik bergemuruh. Akulah sang pemuja malam. Senja bagiku tak hanya sebatas langit dan laut yang berpagutan mesra membiarkan matahari melepas lelah setelah seharian menghangatkan bumi. Senja adalah saat aku mengirim dusta demi dusta padanya, dengan alasan klise yang usang. Lembur, meeting, atau bertemu klien mungkin telah memenuhi inbox hpnya. Aku tak punya alasan yang indah lagi untuk dirangkai. Lagipula aku tak peduli apakah dia percaya atau tidak. 

Senjaku akan tetap sama andai dia tak membuat pengakuan itu. Aku mungkin masih betah dalam ruang remang-remang itu, ditemani wanita-wanita berbusana seksi dengan tatapan yang mengundang. Atau mungkin masih bersama teman-teman satu seleraku melepas tawa diiringi dentingan gelas-gelas yang beradu bibir. Sungguh, aku tak perlu termenung menatap senja yang seolah mengejekku. Sementara tanganku menggenggam seikat bunga yang mulai layu. Dan sebuah kotak kecil merah berpita cantik itu tergeletak sia-sia di meja sampingku. Masih tak percaya ku baca ulang surat yang dia tulis. Hanya sebaris isinya, tapi cukup menjelaskan semuanya.

“Aku pulang, Mas. Setelah ini kau bebas mewarnai malammu. Larasati” 


*****

Aku menatap sosok pria berpostur atletis yang melangkah ke arah mejaku. Ayunan langkahnya begitu percaya diri. Dia belum berubah, batinku. Empat tahun aku hampir tak bersua dengannya, setelah tragedi itu. Kami berdiri berhadapan. Dalam jarak sedekat ini, bisa ku baca aura yang tergambar. Nampaknya kebahagiaan melingkupinya kini. Tentu saja, dia telah menemukan cinta sejati seperti yang dicarinya dulu.

Ku genggam tangannya dengan canggung. Tapi ups…dia meranggulku hangat sembari menjabat erat tanganku. Dia telah melupakan peristiwa itu, karena dia telah memenangkan cinta sang dara. Aiga, wanita cerdas berparas menawan yang kami perebutkan dulu telah menjatuhkan pilihan pada Bimo, sahabatku sendiri.

“Apa kabar, bro? Empat tahun, he?” sapanya hangat.

“He eh…baik. Gimana kabar Aiga?” 

Tanyaku bagai bidikan sniper yang jitu ke arah sasaran. Sejenak dia tertegun, namun kemudian dia sanggup menguasai medan. Dia bercerita ringan waktu sang isteri sekarang banyak tercurah untuk si kecil, buah cinta mereka. Anak itu begitu mirip dengan Aiga ujarnya. Sedang lucu-lucunya, membuat aku ingin segera tiba di rumah begitu jam kantor usai, ceritanya santai.

Dia memamerkan photo-photo puteri kecilnya itu dari kamera handphone-nya. Tak salah dia memang jelmaan Aiga. Pose-pose anaknya yang menggemaskan itu, perlahan menerbitkan rasa iri di hatiku. Dan rasa iri itu bagai gelindingan bola salju yang semakin membesar ke bawah.

Mengingatkan ku kembali pada drama satu babak kami yang berakhir tragis di pagi hari nan cerah itu. Satu hook-ku telah merobohkannya, ketika ku terima undangan pernikahan itu. Diam-diam ternyata dia pun mengejar Aiga. Padahal dia tau aku memuja dara itu. Sejak itu aku tak bisa berpura-pura bahwa antara kami tak terjadi apa-apa. Persahabatan kami menjadi hambar. Dan ketika tawaran untuk mengendalikan salah satu pabrik perusahaan kami yang berada di pinggiran Jakarta diberikan padaku, kesempatan itu langsung ku sambar. Sejak itu aku kehilangan kontak dengannya. 

Kini aku yang mengundangnya bertemu. Mestinya telah ku antisipasi sebelumnya jika bertemu lagi dengannya, cerita lama itu akan tergelar kembali. Kenapa aku masih terusik? Mungkinkah aku belum legawa? Atau ini hanya rasa egoku karena merasa telah dikalahkan? Jangan sebut namaku Elang, itu yang selalu ku katakan dulu. Tapi ternyata jiwaku tak sebesar namaku. Setidaknya itu yang ku rasakan kini.

Jeda keheningan itu koyak ketika salah satu pramusaji menghampiri meja kami dengan daftar menu di tangan. Tak butuh waktu lama bagi Bimo untuk menemukan menu kegemarannya.

Ice Jasmine Green Tea dan Barbeque French Fries,” putusnya sambil menyodorkan buku menu itu kembali. 

Setelah menimbang sejenak aku memutuskan memilih Clovaroma. Teh dengan campuran cengkeh itu kedengarannya cukup menggoda. 

Kami berdua adalah penggila teh, dan pilihan kami dulu biasanya di sini untuk menghabiskan waktu luang. Suasana di sini cukup private dan cozy untuk ngobrol ngolor-ngidul. Tapi itu dulu, ketika hati kami belum berjarak. 

“Enggak pesan makan, bro?” tanyanya heran

“Lagi nggak selera nih,” jawabku jujur

Dia menatap mataku sekilas, mencoba mencari jawaban di sana. 

“Apa yang membawa kita ke sini, bro?”

Dia menyerah untuk terus menebak-nebak. 

“Siapakah pria itu, Bimo?”

Alisnya berkerut. Dia belum mengerti arah pertanyaanku.

“Pria siapa maksudmu?”

“Pria yang mendekati Laras, isteriku.”

Dia menegakkan bahunya, kemudian perlahan menggeser duduknya. Dia menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya menyipit. Mungkin dia sedang memilih kalimat yang tepat. Kemudian mengalirlah cerita itu. 

Pilihanku untuk menemui Bimo tak salah. Aku yakin Laras masih tetap bersahabat dengannya, walau dia tahu aku telah berusaha menghapus nama Bimo dari daftar temanku.

Apa masalahmu, gugatnya padaku. Kenapa wanita semulia Laras kau sia-siakan juga? Tidak cukupkah petualanganmu dulu? Dia kembali mengoyak harga diriku. Aku tersulut. Tidak cukupkah satu hook- ku dulu telah merobohkanmu? Tapi tidak, bukankah yang dia katakan semuanya benar.

Tiga tahun pernikahan kami, berapa banyak kebahagiaan yang telah ku persembahkan pada Laras? Seingatku malam-malam bergairah kami hanya di tahun-tahun awal pernikahan. Setelah itu aku tenggelam dalam dunia gemerlap. Membiarkan lauk-pauk yang dihangatkannya untukku setiap malam menjadi dingin dan hambar. Membiarkan dia seringkali tertidur di sofa menungguiku hingga larut malam. Bahkan mengabaikan cinta dan perhatian-perhatian kecilnya. 

Dia tak pernah protes dengan sikapku. Hemm…mungkin dia tipe wanita Jawa yang mengabdi dan nrimo. Dia tenang bak telaga. Nyaris tanpa gejolak. Aku ingin yang lebih bertenaga. Seperti laut dengan gelombangnya yang sanggup menghancurkan karang. Atau seperti sungai beraliran deras dengan jeramnya yang menantang. 

Tapi malam itu ada yang berbeda. Sinar matanya menyampaikan sinyal bahwa dia telah lelah menungguku. Kita harus bicara Mas, katanya hati-hati. Dia duduk di ujung ranjang menungguiku berganti pakaian. Bicaralah ujarku sambil meneruskan aktivitasku. Aku memang telah menunggu, jika dia protes dengan sikapku selama ini. Tapi tidak…

“Maafkan aku jika ini akan melukaimu,” ujarnya hati-hati.

Aku belum tersentuh.

“Aku jatuh cinta lagi.”

Aku menoleh. Titik-titik air bening itu mulai menggenangi sudut matanya. Tak yakin, ku tatap dia. Berusaha menyelam ke dalam telaga itu. Tapi telaga itu keruh, dasarnya tak tampak. Permukaan telaga itu hanya menampilkan seraut wajah pasi. Wajah pasi seseorang lelaki yang terkejut dengan keterus terangan isterinya.

“Kamu bercanda kan?” tanyaku masih tak percaya

“Enggak, aku serius Mas,” jawabnya terbata. Dia menyusut sudut matanya dengan jemarinya.

“Seberapa jauh?”

“Bukankah tidak penting seberapa jauh. Tapi ketika aku telah membayangkan sosok lelaki lain dalam malam-malamku, maka aku telah mengkhianatimu, Mas,” jelasnya jujur.

Aku tertohok. Betapa jujur wanita ini. Apa sebutan bagi laki-laki sepertiku, yang menghabiskan malam mencumbui wanita-wanita bergincu tebal dan harum tubuh yang mengundang di klub-klub malam? Kenapa aku tak pernah merasa mengkhianatinya? 

“Semua keputusan ada di tanganmu kini, Mas. Apapun itu akan ku terima dengan lapang dada.”
Aku berusaha meraih jemarinya, namun dia menepisnya. Bulir-bulir airmata itu semakin deras. Malam itu kami tidur berlainan kamar.
*****
Suara Bimo kembali menarikku ke dunia nyata. Jangan salahkan mereka, katanya. Bukankah Laras berhak mencari kebahagiaan yang tidak kau berikan? Dan lelaki mana yang tidak tersentuh hatinya melihat wanita selembut Laras disia-siakan. Pria itu hanya mengisi ruang kosong di hati isterimu, nasehatnya bijak.

Kau harus berjuang untuk meraih hati Laras kembali. Kau nakhodanya. Selamatkan bahtera itu, jangan biarkan karam. Provokasi Bimo membangkitkan harga diriku kembali. 

“Selamat berjuang. Sahabat adalah orang yang berani mengatakan kebenaran, meskipun itu pahit,” rangkul Bimo sebelum kami berpisah sore itu.

Dan ku pacu CRV-ku membelah lalu lintas Jakarta yang mulai padat. Di sebuah mall aku sempatkan mampir ke sebuah toko jewelry. Sebuah cincin bermata jeli akan ku persembahkan untuknya. Aku tahu Laras bukan termasuk wanita penggila perhiasan. Tapi dia menyukai cincin. Aku yakin dia akan menyukai cincin yang ku pilih. Ditambah seikat bunga, cukupkah menebus kesalahanku?


*****
Senja perlahan pamit. Udara malam berhembus pelan, menggoyang pucuk-pucuk daun mangga di sudut halaman. Simfoni itu terdengar lirih, menyatu dalam malam yang merambat turun.

Kemudian samar-samar suara gamelan menembus malam. Dan sosok-sosok penari rupawan dalam gerak gemulai menaiki panggung. Suara sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas, memulai epos legendaris: Kisah Ramayana.

Di sanalah, di sebuah daerah yang dipenuhi jejak-jejak sejarah yang masih terbaca jelas aku akan menjemput Larasati. Jogja, tunggu… akan ku rengkuh hatinya kembali. Hatiku telah dipenuhi tekad baru. 

Aku beranjak dari teras, memasuki rumahku yang terasa sunyi….


Kebon Jeruk, 11 Mei 2011

Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/05/11/ketika-dia-jatuh-cinta-lagi/

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money