Selasa, 16 Agustus 2011

Cinta Akhirnya Harus Memilih

Perjalanan saat senja. Adalah ketika aku melepaskan cangkang kepompongku, usai metamorphosis panjang itu. Kepakan sayapku menuruni lembah menciumi kuncup-kuncup yang bermekaran, sekedar mencari nektar yang tersisa. Lihatlah sayapku menjaring bias sinar mentari, agar helainya semakin kokoh. 

Jangan kau halau agar menjauhi kuncupmu. Sayap-sayapku mulai lelah kini. Ijinkan aku bertengger di dahanmu, sekedar menatap indahnya kelopakmu. 

*****

Aku selalu menyukai perjalanan, seperti aku menyukai senja. Perjalanan dan senja, adalah sepenggalan kisah itu. Kisah yang belum usai. Ku biarkan menggantung di kubah langit, berharap angin mengaraknya menjadi hujan agar menyirami ladangku yang mulai terasa gersang.

Tapi belum nampak tanda-tanda dari langit. Akhirnya ku putuskan aku harus menyongsong takdir itu. Telah ku kumpulkan kekuatan untuk menyongsong badaipun. Aku harus tahu, karena akulah Elang. Elang tak hanya diam menunggu takdir datang.

Di sinilah aku kini. Dalam sebuah gerbong yang bergerak statis dan dipenuhi beragam polah penumpang. Kursi penumpang di sebelahku kosong, sebuah kebetulan yang menyenangkan. Aku sedang tak ingin berbasa-basi. Aku ingin sendiri. 

Ku lepaskan pandangan melewati jendela kaca di sampingku. Ragaku tak dapat memenjarakan anganku yang mulai berlarian liar. Berlompatan menembus ruang dan waktu. Membiarkan fragmen demi fragmen itu terpampang.

****

Tangis Ibu berderai, seiring hujan deras yang menyirami kota kami. Tangannya terus melipat kemeja sekolahku dan memasukkannya ke dalam koper. Aku tertegun menatapnya. Diraihnya lenganku. Tangannya gemetar menarik tubuhku mendekat. Mata indahnya berkabut.

“Kita pulang ke rumah Kakek ya Elang,” bisiknya tersedu.

“Tapi kenapa Bunda?” 

Aku tak mengerti keputusan Ibu yang begitu mendadak. Aku, bocah delapan tahun telah dipaksa mengunyah penganan keras yang membuat gigiku terasa ngilu. 

“Suatu hari nanti kamu akan mengerti, Sayang. Bunda tidak bisa bersama dengan Ayah lagi. Rumah Kakek masih cukup luas untuk menampung kita.”

Dia mencoba tersenyum. Tapi senyum itu sumbang. Aku tahu hatinya pedih. Tentu saja rumah kakek tak hanya cukup besar, bahkan serasa menelanku. Aku ingat rumah dua lantai dengan balkon indah dan langit-langit tinggi itu dengan pelayan yang hilir mudik, terasa asing bagiku.

Di sinilah tempatku seharusnya. Menatap hijau bukit barisan di kejauhan yang diselimuti halimun setiap pagi. Mendengarkan suara alam yang membuai. Kadang di kejauhan suara Siamang terdengar samar. Mungkin di balik lebatnya hutan yang menutupi Gunung Marapi, Gunung Sanggalang, dan Tandikat itu makhluk rimba itu sedang berayunan dari satu dahan ke dahan lainnya. 

Inilah duniaku. Kadang di akhir pekan Ayah akan membawaku dengan Hardtop-nya menyusuri lekuk bukit barisan sekedar mengiringi matahari tenggelam di bibir laut. Dia tak keberatan duduk di belakang setir satu setengah jam untuk menyambangi Pantai Padang. 

Ketika Ayah asyik melempar pancingnya ke tengah ombak, aku akan mulai dengan kesenanganku. Menumpuk gundukan pasir, membentuk bangunan khayalanku. Bangunan dengan atap bersusun yang menyerupai tanduk kerbau adalah favoritku. Aku selalu memandang Rumah Gadang dengan terkagum-kagum. Aku bangga dalam darahku mengalir darah Minang, negeri para cendekia. 

Byuur…ombak datang menghancurkan bangunan khayalanku. Aku berlari menghampiri bibir ombak, memilih kerikil-kerikil pipih, kemudian… cling cling batu-batu itu pun berlompatan di atas permukaan ombak. Tanganku semakin mahir kini, kerikil-kerikil itu loncatannya semakin jauh. Aku menatap puas. 

“Wa’ang1) belum ingin pulang?” tanya Ayah mulai mengingatkanku jika matahari mulai menepi di kaki langit.

Ayah memamerkan dua ikan Baronang sebesar telapak tangan yang telah disusuknya dengan tali. Dia bangga dengan hasil tangkapannya. Laut memang tak pernah kikir, jika kita meminta.

“Ayah sudah selesai?”

Dia mengangguk. Ku pandangi lelaki tegap bermata elang yang sedang menggulung tali pancing itu. Dia memang Ayahku. Gennya mengalir dalam tubuhku.

Ayah memang hobi memancing. Kadang di waktu luangnya Ayah akan mengajak teman-temannya menyewa perahu motor, pergi melaut. Tapi itu tak sering. Itu hanya dilakukannya jika kesibukannya sedang tak menyita.

Usaha Ayah sedang maju pesat. Kios-kiosnya yang menyediakan barang-barang kerajinan khas daerah Minang: kain tenun Songket, aneka bordiran, kelengkapan upacara adat dan perkawinan – kodek songket, saruang balapak, saruang batabua, selendang batabua tingkuluak tanduak- , dll tambah laris saja. Selain punya pengrajin sendiri, dia juga menampung hasil dari pengrajin setempat, dari daerah Pandai Sikek. 

Dalam darahnya mengalir jiwa usaha, warisan turun temurun. Ayah berharap aku bisa mewarisi bakatnya. Tapi rasanya tidak, aku tak betah jika diajak Ayah menengoki kiosnya. Aku lebih tertarik dengan buku. Bersama buku-buku aku tenggelam dalam duniaku. Tenggelam dalam dongeng-dongeng H.C. Andersen. Membayangkan dunia-dunia yang jauh. Atas semua itu, Ayah menyalahkan Ibuku. Katanya tak seharusnya anak lelaki itu melankolis. Lelaki itu harus kuat, sekuat Elang. 

Karena itu Ayah sering mengajakku ke pantai. Jika senja tiba dia akan menggamit lenganku. Dia menunjuk ke batas cakrawala. Di balik sana ada dunia lain, katanya. Di baliknya lagi masih ada dunia yang lebih luas lagi. Kau Elang, kau bisa menaklukkan dunia provokasinya. Aku menatap senja, meletup dalam imajinasiku sendiri. Tapi senja telah menyatukan kami.


*****

Ibu menyeret koper besar kami ke ruang tamu. Datuk dan Anduang telah menunggu. Tapi mereka tak dapat mencegah kemauan Ibu. 

Mataku panas menahan pedih. Langkahku berat serasa digayuti rantai besi. Ku sembunyikan mataku di balik kerah baju. Ku dekati sepasang manusia setengah baya yang terduduk pasrah di kursi di depanku. Mereka mendekapku bergantian. Pertahananku runtuh. Tangisku pecah. Nada pilu itu terdengar menyanyat.

“Kamu tidak harus pergi, Ais,” kata-kata itu yang terucap dari bibir Datuk kepada Ibuku.

Namun Aisyah, ibuku itu nampaknya telah bulat dengan tekadnya. Sambil menarik tanganku dia menyeret koper berat itu, dan beberapa tas lain yang dicangklong di pundaknya. Langkahku tersendat mengikuti iramanya. Sudut mataku mencari-cari sosok itu. Ayah tak nampak.

Maafkan Ibu membuatmu sedih, Elang. Kamu akan mengerti suatu hari nanti. Ini masalah prinsip, bisik Ibu di atas mobil yang membawa kami ke bandara. Suatu hari menjelang remaja aku mengerti makna prinsip bagi Ibu, bahwa dia tak bersedia dimadu.

Hatiku terasa sunyi. Aku merasa terlempar ke rimba belantara. Terbayang sudah gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi jantung Jakarta. Dan kerlap-kerlip lampu jalanan saat malam tiba, sanggup menyembunyikan sudut-sudut kumuhnya. Senandung alam Padang Panjang terasa bermil-mil jauhnya.

Aku teringat Ayah. Dadaku sesak. Entah kenapa dia tak mengiringi kepergian kami. Terlukakah dia? Aku mencintai lelaki itu, tapi aku juga mengasihi Ibuku. Aku tak sampai hati membiarkan Ibu pergi sendiri. Namun kini aku mulai menyalahkan Ibu, kenapa dia mencabuti ku dari akarku sendiri?

Aku mulai menggugat Ibu dalam hati. Kenapa dia memaksaku memilih? Tak bisakah dia membiarkanku berdiri netral? Tapi mata Ibu yang menyimpan luka itu seolah membutuhkan dukunganku. Aku tak bisa meraba seberapa dalam duka itu. Akankah waktu menyembuhkannya? Mungkin karena itu aku akhirnya memilih. Memilih dengan hati yang pedih. 

1) Wa’ang: kata ganti orang kedua. Untuk berbicara dengan orang yang seumur atau lebih muda



Dewi Damayanti

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/06/17/cinta-akhirnya-harus-memilih/

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money